Ade Siti Barokah 

Suara dering telepon membangunkanku subuh tadi. Terdengar suara berat di ujung sana. Ternyata Bapak. Suaranya serak diseling batuk-batuk. Di sebelahnya terdengar berisik suara ibu, beradu dengan kabel telepon yang sepertinya ditarik-tarik. Rebutan. Itu kebiasaan bapak dan ibu jika menelepon anak-anaknya. Tak sabar ingin bicara lebih dulu. “Ojo lali, shalawat nduk. Eling karo Gusti Allah”, itu nasehatnya selalu. Berulang-ulang.   

 Entah mengapa aku memanggilnya bapak, padahal semua kakakku memanggilnya Pa’e. Lebih keren kedengarannya.  Sama seperti aku memanggil ibu, bukan Bu’e atau mbah, bukan mbah’e sebagaimana panggilan lazim di kampungku. Rupanya sejak kecil aku ini sudah kepengen nggaya, berbeda dengan lainnya.   

Bapakku adalah seorang penghulu, pegawai KUA dan belakangan menjadi kepala KUA di beberapa kecamatan.  Jangan tanyakan sudah berapa pasang pengantin yang ijab kabul di bawah sumpahnya? Tak terhitung. Itulah mungkin yang membuat bapakku terkenal laksana selebritis. Tapi tentu saja hanya di kecamatanku dan sekitarnya saja hehe.  

Penghulu adalah pekerjaan resminya. Tapi aktivitas lainnya bejibun: ceramah agama, khatib jum’at keliling,  aktivis muhamaddiyah,  ketua komite sekolah dan tentu saja, sebagaimana umumnya warga di kampung kami, bapak adalah juga petani. Dan mungkin pekerjaan bapak yang terakhir inilah yang sesungguhnya menyuplai hidup dan pendidikan kami. 

Sepulang kantor, –jika tak ada undangan pernikahan–, bapak akan bergegas berganti seragam. Celana hitam gombrong selutut dengan ikat pinggang dari serat nanas, –yang dijalin sendiri—plus kaos oblong. Hampir semua kaos bapak tak ada yang beli alias gratis. Kebanyakan sih kaos pemberian saat kampanye, –dan karena bapak PNS, tentu saja warnanya kuning. Di punggung dan saku depannya tampak mencolok simbol pohon beringin berdaun lebat itu.   

Sepanjang petang bapak bergumul dengan peluh, lumpur, rumput liar, hama tanaman dan burung-burung yang hinggap di bulir-bulir padi.  Jika ada kecipak air dan gelembung-gelembung di pematang, itu pertanda tikus-tikus sawah melintas. Dan bapak akan mengejarnya tak kenal ampun!! Itulah musuh bebuyutan kami, para petani.   

Kami mencintai bapak,  bukan saja karena dari benihnya kami tumbuh, tapi juga beliau yang selalu menyemai dan meniupkan semangat kami tanpa lelah. Dan beliau mencintai kami dengan cinta yang terus bertambah. Bahkan ketika kami sudah dewasa dan tinggal terpisah. Kadang beliau memperlakukan kami persis saat kami kecil. Misalnya, setiap kami berkumpul lebaran, bapak yang paling sibuk mengatur menu makanan dan menyodor-nyodorkan pada kami seperti dulu saat kami malas makan.  “Nambah yo nduk…nambah yoooo”, katanya selalu. Itu yang kadang membuat menantunya tersenyum-senyum. 

 Sejauh batas memoriku, bapak tak pernah memarahi kami. Jika sangat kesal, bapak hanya diam dan nanti saat tertentu akan menyindir-nyindir.  Ihwal sindir menyindir ini memang keahlian beliau. Seperti saat ceramah misalnya,  bapak lebih senang menggunakan kalimat sendiran halus daripada kata-kata keras berkobar.  Yang tersindir akan tersenyum-senyum tertunduk,  sementara yang lain mungkin menganggapnya “nylekit”. 

 Malam minggu adalah malam terindah. Selepas shalat isya’, selalu yang dilakukan beliau adalah menggelar tikar di halaman dan mengajak kami anak-anaknya memandang langit yang  gelap dihias bintang berpendar. Kami yang kecil-kecil tidur berjejer. “Ayo nduk, hitung ada berapa banyak bintang di atas itu”, kata beliau. Lalu mericaulah mulut kami: satu, dua, tiga, sepuluh, duapuluh……seratus… dua ratus… Itulah pelajaran berhitung pertama kami. 

Tampak di atas sana ada “benda langit” berkerlip-kerlip bergerak lurus melintasi kepala kami. Kami terpana menatapnya dan mulut kami mendesis. “Montor mabur….”. Entah magnit apa yang melekat pada bintang kerlip bergerak-gerak itu. Mata kami tak berkedip, mulut melongo dan jauh di lambungan angan kami, terbersit mimpi. Terbang bersamanya melintasi samudera dan juga kampung kami ini. Malah dalam khayalan usil kami, kelak jika bisa menaiki benda itu, kami akan menjatuhkan roti atau buah-buahan dan tertawa melihat teman-teman kami berebutan mengambilnya.  Bukan hanya kami yang bermimpi. Dari tatap mata dan gerak tubuh bapak dan ibu, kami tahu beliau juga bermimpi benda kecil di langit itu akan menerbangkannya ke tanah suci.   

Di atas tikar beratap langit itu kami akan dengarkan ratusan kisah pengobar semangat.  Kisah para nabi, sahabat rasul dan juga tetangga kiri kanan yang berhasil. Dan beliau akan menyudahi kisah panjangnya dengan, “Agomo kuwi dalane, ilmu kuwi sanguna : agama itu jalannya, sedang ilmu pengetahuan itu bekalnya”. Itulah ritual malam yang menambal semangatku bertahun-tahun berikutnya. 

Jika beberapa dari kami menguap, mata mengerjab-ngerjab dan tubuh mulai bergelung, ibu memimpin doa tidur lengkap dengan terjemahannya. “Ya Allah, kulo badhe bobok engkang sekeco, mboten wonten alangan setunggal mawon. Amin”.  Lalu mengajak kami bangkit menuju jajaran dipan bersekat sekeping papan bertuliskan nama-nama dan tanggal lahir kami.   

Aku masih ingat bagaimana rasanya meringkuk di gendongan bapak.  Namun yang paling kuingat adalah saat tangisku pecah tak henti-henti.  Waktu itu usiaku baru 3,5 tahun saat matahari mulai merangkak naik dan perutku bergemuruh menuntut asupan. Saat itu ibu sedang  meregang nyawa melahirkan adik perempuanku: sendirian. Tanpa bantuan siapapun. Adikku itu adalah anak ke-5 dan lahir dengan berat badan hampir 4 kg. Aku tak tega melihat ibu. Dukun bayi dan bidan yang dipanggil belum datang sementara kepala bayi sudah nongol. Ohh…bapak panik sekali. Ia memegangi lengan ibu dan merengkuhku yang menangis meraung-raung. Tak lama kemudian bude Rah dan tetangga-tetangga berdatangan. Aku tetap menangis, beradu dengan lengking tangis bayi  10  menit berikutnya.  De Rah berseru histeris, “Wis menengo, adimu wis lair, sak gedhe gudel (Sudah diamlah, adikmu sudah lahir sebesar anak kerbau)”. Tapi tangisku semakin menjadi-jadi. 

Bapak menggendongku ke tarangan, –keranjang bambu tempat ayam-ayam menaruh telurnya–, dan mengambil beberapa telur.  Dengan aku di gendongan, bapak menyalakan tungku dan mendadar telur.  Kepalanya menunduk naik turun meniup kayu bakar membuat tubuhku ikut berayun-ayun.  Rasanya seperti naik jungkat-jungkit. Sontak tangisku terhenti. Ya bapak tahu, mudah sekali menghentikan tangisku. Beri saja telur dadar atau kol/kobis goreng dan aku akan duduk manis menelan suapannya. 

22 Februari 1998,  adalah saat pertama kali aku memperhatikan raut muka beliau yang tegang. Di hadapannya duduk bersimpuh seorang lelaki muda yang juga tak kalah tegangnya.  Sudah tak terhitung berapa kali Bapak  memimpin upacara ijab kabul, tapi dalam perhelatan itu kulihat beliau sungguh gugup. Ia menjabat erat tangan lelaki muda itu, seperti mencengkeram,  menatap tajam dan terbata mengucapkan, “Aku nikahkan engkau dengan puteri kandungku……..”. Suaranya tercekat di kerongkongan. Bulu kudukku berdiri seperti ditiup angin semilir dan air mataku runtuh.  Bapak  menyerahkan aku kepada suamiku, seperti  melepaskan prajurit ke medan laga dengan tabuhan genderang membahana.  Dan ia menatapku seolah aku ini permata paling berharga sedunia.  “Jangan sampai kau lukai puteriku ini, atau kau akan menanggung akibatnya”, begitu tatapan matanya berbicara. Detik-detik itulah aku teringat saat digendongnya mengitari tarangan, merunduk-runduk mengambil telur, mendadarnya dan menyuapkan ke mulut kecilku….     

Jadi bagaimana aku bisa mengingkari kasihnya???

 *nggaya: berlagak, sok

* nduk: panggilan sayang untuk anak perempuan

* nylekit: sindiran yang  pahit,  menusuk hati

* montor mabur: pesawat terbang